Posted by: Nanda on: March 16, 2010
One thing I learn from my previous relationship is that the boy never loved me like I think he would be. Kalo ada yang nyangkal dan bilang pengorbanan dia untuk sama saya itu banyak dan sangat worth it, maka saya akan bertanya balik; apa kalian yang ngomong seperti itu tau apa aja yang udah saya korbanin for the relationship?
Pacar baru mantan saya marah-marah dan bilang kalo mantan saya itu sangat sayang sama saya, dan saya yang kebangetan karena udah bikin dia sesakit hati itu. Well, girl, you obviously don’t know how the story goes from both sides.
Jelas lah kalo pacar baru mantan saya itu belain mantan saya/pacarnya. It’s her boyfriend, duh. Kaya kurang jelas aja itu kalimat ngejelasinnya. Pacar baru mantan saya hanya mendengar cerita dari mantan saya, yang pastinya akan bercerita tentang keburukan saya (bukan suudzon loh ya, hanya berusaha tidak terdengar munafik).
Mantan saya pernah bilang, pengorbanan dia antara lain; ngebatin selama 8 bulan (karena saya tidak seperti yang dia harapkan), dianggap ‘budak’ sama temen-temennya (karena harus membuat saya senang dengan tidak bergaul di tempat nongkrong yang tidak bisa dibilang baik dan tidak merokok), dan ditatap sinis sama keluarganya (karena harus mengabari saya minimal dua jam sekali lagi apa dan di mana melalui SMS).
Boy, I would love to explain why I act like that to you, kalo aja kamu stop being a jerk and listen to me for a full 5 minutes.
Satu, kamu ngebatin selama delapan bulan? Apa selama delapan bulan itu kamu pernah sampe nangis tiap malem kaya orang gila dan berpikir untuk mengakhiri semuanya saking ga kuat nanggung sakit hatinya? Apa selama delapan bulan itu kamu pernah ngerasa sakit, sedih, kesel, dan marah sampe mual dan akhirnya berefek ke badan kamu? I don’t think so, boy. Dan kalo sekarang, saat saya bicara seperti ini ke kamu terus kamu jawab, “Itu semua karena kamu ga bisa nerima kenyataan kalo saya bukan pacar kamu lagi dan jadian dengan orang lain. Kalo kamu ga terlalu mikirin dan ngebawa semuanya dengan santai, kamu ga perlu sehisteris itu,” saya akan berkata lagi; We’ve been through an emotional 8 months long relationship, saya itu goblok kalo sampe bersikap tiis sama putusnya kita. Terlebih dengan perlakuan kamu yang ‘ga banyak’, cuma jadian dengan cewe lain begitu cepat, seolah 8 bulan kemaren itu ga pernah terjadi.
Kecuali kalo kata mama saya bener, you never love me in the first place anyway.
Which I actually starting to believe.
Dua, kamu dianggap ‘budak’ sama temen-temen kamu? Well, saya dianggep tolol dan buta sama temen-temen saya karena nangisin kamu. Sebenernya dari awal kamu bisa bilang kalo saya ini sangat berlawanan dengan temen-temen kamu. Saya tidak termasuk ke golongan anak gaul yang bisa jalan-jalan tiap ada kesempatan ke tempat yang nun jauh di sana, saya dianter jemput ke sekolah tiap hari, rumah saya ga bisa dijadiin tempat tongkrongan kamu dan temen-temen kamu, and most importantly, saya bukan tipe anak perempuan yang imut-imut lucu dan bisa dijadiin pusat guyonan. Saya benci rokok. Saya tolelir kamu ngerokok dengan batasan dua batang perharinya. Saya rasa orang bodoh juga tau kalo apa yang saya tetapkan soal rokok itu buat kebaikan kamu sendiri. But that’s not what you’re looking for. Semua yang kamu cari ada di pacar kamu yang sekarang. Here, I mention the things; pacar kamu yang baru punya badan berisi dan seksi, roknya 10cm di atas lutut, rambutnya panjang (oh how you love long haired girl), bawa motor ke sekolah, gaul, and your first favorite of course: dia ngerokok.
Saya optimis temen-temen kamu bakal ngedukung kamu 1000000% sama cewe itu.
Walaupun kemaren bestfriend kamu sendiri bilang ga setuju kalo cewe itu jadi pacar kamu.
Oh well, I’m sure time will change that.
Tiga, tatapan sinis keluarga kamu karena kamu harus selalu megang handphone untuk terus mengabari saya. Lately I know that your family do that karena kita sama-sama mau ujian masuk universitas. Selepas dari itu (baik delapan bulan yang lalu maupun setelah ujiannya kelar) keluarga kamu ga pernah protes soal kelengketan kamu sama handphone yang jadi konektor sama saya. Sedangkan saya? Selama delapan bulan full, I didn’t care what my family have said. Selama delapan bulan full, saya ditatap sinis sama keluarga saya. Selama delapan bulan full, saya ga ngikutin apa kata keluarga saya; which is ga setuju kalo saya sama kamu. Apa saya pernah protes? Tidak. Apa saya mundur dengan mudah seperti yang kamu lakukan? Saya rasa juga tidak.
Melawan keluarga itu tidak pernah berujung baik. Saya rasa saya udah tau kenapa. Sekarang, di saat kata-kata keluarga saya tentang jeleknya kamu buat saya itu terbukti. Dan sekarang saya mulai berpikir mungkin kata-kata papa saya tepat;
Kamu udah dapet pengganti saya dari jaman kapan tau, sebelum akhirnya membuang saya.
Harus saya akui, ‘cinta’ dan ‘sayang’ yang dia umbar selama delapan bulan udah bikin saya buta. Saya ga peduli apa kata orang, dan saya percaya 100% ke mantan saya itu. Tanpa tau kalo sebenernya di pihak mantan saya, saya ga ada spesial-spesialnya. Just another girl that happen to date the boy. Daaaan, saya harus akui juga kalo saya sangat teramat menyesal udah ngalamin delapan bulan kebutaan itu. Damn, delapan bulan itu waktu yang lama. Banyak banget yang bisa saya lakukan selama itu dibanding nge-worship a total jerk yang ga tau terima kasih dan ga punya malu.
From now on, saya bakal jalanin apa yang orang bilang ‘relationship’ atau ‘dating’ dengan sekenanya. Saya ga mau jatoh ke lobang yang sama untuk kedua kali kaya orang bego. Cukup sekali, dan cukup saya yang mengalami; jangan dialami sama orang-orang yang berarti baik buat saya. Kata serius di romance relationship saya cuma bakal muncul nanti, buat suami saya.
And I really hope there’ll be a man who’s not that jerk to be the one.
I’m sorry, boy. Tapi kamu adalah bagian dari idup saya, yang saya harap ga pernah ada.
xoxo, The Girl.